Bunda

November 11, 2008

ANGSA BERTELUR EMAS

Filed under: Dongeng Anak — indungbudak @ 2:03 am

 

 

Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang petani miskin yang bernama Harun, sehari-harinya ia hanya ditemani oleh istri tercintanya yang bernama Aisah.   .Desa mereka bernama Desa Mangku Bumi. Mereka hidup sangat prihatin, mereka tinggal di sebuah gubuk yang yang terbuat dari bambu. Atap rumah mereka pun sudah banyak yang bocor sehingga kalau malam tiba angin bertiup masuk melalui celah – celah atap membuat mereka menggigil kedinginan. Dan kalau hujan deras datang , air hujan akan masuk kedalam rumah mereka, membuat mereka tidak dapat tidur karena tidak ada lagi tersisa tempat yang nyaman bagi mereka tidur.  Tapi karena ia seorang yang jujur, sekalipun hidup miskin mereka hidup bahagia.

 

Rumah kecil mereka mempunyai halaman yang sempit, yang sengaja mereka sisakan untuk ditanami bermacam tanaman obat dan sayuran yang biasanya mereka perlukan, juga terdapat sebuah kandang untuk seekor angsa peliharaan mereka. Angsa itu merupakan satu-satunya yang berharga bagi mereka, jadi angsa itu sangat mereka sayangi. Angsa itu mereka beri nama Si Putih, karena bulunya yang putih bercahaya.

Pada suatu hari, ketika petani pergi ke kandang angsa tersebut, dia menemukan sebutir telur emas di dalam kandang angsanya. Dengan sangat gembira ia bergegas menemui istrinya untuk memperlihatkan telur emas itu. Melihat apa yang ditunjukkan suaminya, si istri berteriak kegirangan, “Kita akan menjadi kaya. Telur ini benar-benar emas murni!” Kata istrinya sambil menimang-nimang telur emas itu.

Pada sore hari setelah mereka mendapatkan telur tersebut,  Aisah mencoba merenungkan apa yang telah terjadi, dan berpikir seandainya mereka bisa lebih cepat mendapatkan terlur emas tersebut , sehingga mereka dapat lebih cepat membangun rumah mereka dan membeli banyak sawah untuk mereka garap, tanpa harus menunggu waktu sang angsa itu bertelur. Setelah cukup lama berpikir Aisah mempunyai ide bagaimana jika mereka sembelih saja angsa tersebut dan kita belah indung telurnya, pasti akan banyak telur emas di dalam indung telurnya dan kita akan menjadi kaya.”

 

Harun merasa ide Aisah itu merupakan ide yang sangat bagus, maka tanpa membuang waktu lagi, mereka segera menangkap angsa tersebut, menyembelihnya, dan membuka indung telurnya. Akan tetapi mereka sangat kecewa karena tidak mendapati satu butir telur emas pun di dalam indung telurnya. Petani dan istrinya kini sedih dan sangat menyesal. Raut mukanya menunjukkan kesedihan yang amat mendalam. Harapan untuk mempunyai rumah yang bagus, serta sawah yang banyak tidak dapat menjadi kenyataan. Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita tersebut ialah “ Syukurilah segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepada kita, Sikap serakah hanya akan mendatangkan keburukan kepada

(Andai) Aku Dimakamkan Hari Ini

Filed under: Pernak-pernik — indungbudak @ 1:58 am

 

Perlahan, tubuhku ditutup tanah. Perlahan, semua pergi meninggalkanku.

Masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka

Aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

Sendiri, menunggu keputusan…

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

Apa lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat, rekan bisnis, atau orang lain,

Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

Tangan kananku menghibur mereka, kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

Tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan …

Menyesal sudah tak mungkin. Tobat tak lagi dianggap.

Dan ma’af pun tak bakal didengar, aku benar-benar harus sendiri…

 

Tuhanku …

(entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya, tiba-tiba saja aku ingin menyebut-Nya)

Jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

Jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu, beberapa hari saja…

Aku akan berkeliling, memohon ma’af pada mereka,

Yang selama ini telah merasakan zalimku, yang selama ini sengsara karena aku,

Yang tertindas dalam kuasaku, yang selama ini telah aku sakiti hatinya

Yang selama ini telah aku bohongi…

Aku akan kembalikan, semua harta kotor ini,

Yang kukumpulkan dengan wajah gembira, yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

Yang kumakan, bahkan kutelan yang sudah jelas haram…

Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yang sering kuumbar dulu

 

Dan Tuhan …

Beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

Untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,

Teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka ,

Maafkan aku ayah dan ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu

Beri juga aku waktu, untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

Untuk sungguh-sungguh beramal soleh …

Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu, bersama mereka…

Begitu sesal diri ini karena hari-hari telah berlalu tanpa makna

Penuh kesia-siaan …

Kesenangan yang pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali

Mengapa kusia-siakan saja waktu hidup yang hanya sekali itu

Andai aku bisa putar ulang waktu itu …

 

Aku dimakamkan hari ini, dan semua menjadi tak terma’afkan,

Dan semua menjadi terlambat, dan aku harus sendiri,

Untuk waktu yang tak terbayangkan …

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali

Filed under: Pernak-pernik — indungbudak @ 1:56 am

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

———-


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.