Bunda

November 11, 2008

ANGSA BERTELUR EMAS

Diarsipkan di bawah: Dongeng Anak — indungbudak @ 2:03 am

 

 

Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang petani miskin yang bernama Harun, sehari-harinya ia hanya ditemani oleh istri tercintanya yang bernama Aisah.   .Desa mereka bernama Desa Mangku Bumi. Mereka hidup sangat prihatin, mereka tinggal di sebuah gubuk yang yang terbuat dari bambu. Atap rumah mereka pun sudah banyak yang bocor sehingga kalau malam tiba angin bertiup masuk melalui celah – celah atap membuat mereka menggigil kedinginan. Dan kalau hujan deras datang , air hujan akan masuk kedalam rumah mereka, membuat mereka tidak dapat tidur karena tidak ada lagi tersisa tempat yang nyaman bagi mereka tidur.  Tapi karena ia seorang yang jujur, sekalipun hidup miskin mereka hidup bahagia.

 

Rumah kecil mereka mempunyai halaman yang sempit, yang sengaja mereka sisakan untuk ditanami bermacam tanaman obat dan sayuran yang biasanya mereka perlukan, juga terdapat sebuah kandang untuk seekor angsa peliharaan mereka. Angsa itu merupakan satu-satunya yang berharga bagi mereka, jadi angsa itu sangat mereka sayangi. Angsa itu mereka beri nama Si Putih, karena bulunya yang putih bercahaya.

Pada suatu hari, ketika petani pergi ke kandang angsa tersebut, dia menemukan sebutir telur emas di dalam kandang angsanya. Dengan sangat gembira ia bergegas menemui istrinya untuk memperlihatkan telur emas itu. Melihat apa yang ditunjukkan suaminya, si istri berteriak kegirangan, “Kita akan menjadi kaya. Telur ini benar-benar emas murni!” Kata istrinya sambil menimang-nimang telur emas itu.

Pada sore hari setelah mereka mendapatkan telur tersebut,  Aisah mencoba merenungkan apa yang telah terjadi, dan berpikir seandainya mereka bisa lebih cepat mendapatkan terlur emas tersebut , sehingga mereka dapat lebih cepat membangun rumah mereka dan membeli banyak sawah untuk mereka garap, tanpa harus menunggu waktu sang angsa itu bertelur. Setelah cukup lama berpikir Aisah mempunyai ide bagaimana jika mereka sembelih saja angsa tersebut dan kita belah indung telurnya, pasti akan banyak telur emas di dalam indung telurnya dan kita akan menjadi kaya.”

 

Harun merasa ide Aisah itu merupakan ide yang sangat bagus, maka tanpa membuang waktu lagi, mereka segera menangkap angsa tersebut, menyembelihnya, dan membuka indung telurnya. Akan tetapi mereka sangat kecewa karena tidak mendapati satu butir telur emas pun di dalam indung telurnya. Petani dan istrinya kini sedih dan sangat menyesal. Raut mukanya menunjukkan kesedihan yang amat mendalam. Harapan untuk mempunyai rumah yang bagus, serta sawah yang banyak tidak dapat menjadi kenyataan. Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita tersebut ialah “ Syukurilah segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepada kita, Sikap serakah hanya akan mendatangkan keburukan kepada

(Andai) Aku Dimakamkan Hari Ini

Diarsipkan di bawah: Pernak-pernik — indungbudak @ 1:58 am

 

Perlahan, tubuhku ditutup tanah. Perlahan, semua pergi meninggalkanku.

Masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka

Aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,

Sendiri, menunggu keputusan…

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,

Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,

Apa lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat, rekan bisnis, atau orang lain,

Aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,

Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,

Tangan kananku menghibur mereka, kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,

Tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan …

Menyesal sudah tak mungkin. Tobat tak lagi dianggap.

Dan ma’af pun tak bakal didengar, aku benar-benar harus sendiri…

 

Tuhanku …

(entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya, tiba-tiba saja aku ingin menyebut-Nya)

Jika kau beri aku satu lagi kesempatan,

Jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu, beberapa hari saja…

Aku akan berkeliling, memohon ma’af pada mereka,

Yang selama ini telah merasakan zalimku, yang selama ini sengsara karena aku,

Yang tertindas dalam kuasaku, yang selama ini telah aku sakiti hatinya

Yang selama ini telah aku bohongi…

Aku akan kembalikan, semua harta kotor ini,

Yang kukumpulkan dengan wajah gembira, yang kukuras dari sumber yang tak jelas,

Yang kumakan, bahkan kutelan yang sudah jelas haram…

Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yang sering kuumbar dulu

 

Dan Tuhan …

Beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,

Untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta,

Teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka ,

Maafkan aku ayah dan ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu

Beri juga aku waktu, untuk berkumpul dengan istri dan anakku,

Untuk sungguh-sungguh beramal soleh …

Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu, bersama mereka…

Begitu sesal diri ini karena hari-hari telah berlalu tanpa makna

Penuh kesia-siaan …

Kesenangan yang pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali

Mengapa kusia-siakan saja waktu hidup yang hanya sekali itu

Andai aku bisa putar ulang waktu itu …

 

Aku dimakamkan hari ini, dan semua menjadi tak terma’afkan,

Dan semua menjadi terlambat, dan aku harus sendiri,

Untuk waktu yang tak terbayangkan …

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali

Diarsipkan di bawah: Pernak-pernik — indungbudak @ 1:56 am

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

———-


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

[Diterjemahkan dari "I cried for my brother six times"]

Januari 17, 2008

Zia sudah bisa berhitung….!!??

Diarsipkan di bawah: All About Zia — indungbudak @ 7:43 am

Sekarang Zia udah satu setengah tahun lho….!!
Coba tebak Zia udah bisa apa ???
Zia udah bias berhitung lho… satu…sampai sepuluh..
Pada awalnya Zia suka diajak naik tangga…
Kebetulan tangga dirumah kakek jumlahnya ada sepuluh…
Setiap kali Zia diajak naik tangga sama Ibu ato sama bapak
Ato sama kakek,nenek, tante, ua….suka sambil berhitung…
Sa..tu, du…a, ti..ga, sampe se..pu..luh…deh
Akhirnya Zia jadi jago berhitung…
Tapi… masih suka ada angka yang ketinggalan…
Kalau sudah sampe angka lima terus…angka tujuh hehehe….

Selain itu, Zia juga udah bisa nanyain sesuatu sama ibu…
Seperti….bu…bapak mana ?
Bu…itu apa…?
Kalau ada orang lagi ngobrol, aku juga suka dengerin
Trus aku Tanya deh… tate (panggilan untuk tante) apa teu?

Tapi yang paling jago lagi…Zia udah bisa beli bakso lho!!
Kalau ada tukang bakso lewat… Zia panggil deh…
Mang…beli…seibu (seribu)
Kalau udah gitu..terpaksa deh nenek beliin sambil senyum…

Anak Berbohong Kenapa & Cara Mengatasinya

Diarsipkan di bawah: 1, Pernak-pernik — indungbudak @ 7:06 am

Bila kita perhatikan anak yang berusia pra sekolah tidak mau mengakui melakukan sesuatu yang jelas-jelas kita tahu telah dilakukannya, belum tentu dia bermaksud membohongi kita.

Berikut sejumlah hal yang membuat anak melakukan kebohongan.

1. Lupa

Anak-anak usia pra sekolah memiliki daya ingat yang pendek. Oleh karena itu, si kecil tidak mencoba untuk berbohong ketika Anda bertanya, kenapa dia bertengkar. Yang dia ingat hanyalah ia tadi telah berusaha merebut mainan dari temannya.

2. Harapan

Saat anak yang berusia pra sekolah berkeras mengatakan dia tidak memecahkan vas bunga Anda yang mahal, sebetulnya bukan maksud dia untuk mengingkari kenyataan. Masalahnya, dia sedang berharap hal tersebut tidak terjadi dan oleh karena itu dia meyakinkan dirinya, hal tersebut tidak ada hubungannya dengan dirinya.

3. Imajinasi yang aktif

Di usia ini anak-anak kaya dengan fantasi. Kreativitas mereka memuncak dan mereka berpikir, apa yang ada di dalam alam pikirannya memang betul. Lagipula, menurut mereka, setiap orang berpergian ke bulan menggunakan roket raksasa.

4. Tidak ingin dicela

Anak tahu, kok, kelakuannya yang buruk akan mengecewakan Anda. Nah, untuk menghindari murka Anda, mereka lebih memilih berbohong.

5. Ingin dikagumi

Mengarang cerita membuat anak Anda merasa dirinya penting. Saat dia menceritakan pada Anda bahwa dia berenang di kolam renang untuk orang dewasa, sebetulnya dia sangat ingin dipuji dan dikagumi. Dan hal ini bukan merupakan kebohongan yang disadari.

6. Minta perhatian

Anak merasa, bila dia mengarang cerita maka cara ini merupakan jurus jitu untuk mendapatkan respon dari Anda. Dia bahkan tidak memikirkan sisi negatifnya. Kebiasaan mengarang cerita akan berlangsung bila dia mendapatkan perhatian yang diinginkannya.

7. Penting & Hebat

Bila anak mengatakan dialah yang menyelamatkan pengasuhnya saat jatuh dari ayunan, sebetulnya dia mencoba menciptakan suatu situasi yang membuat dia merasa penting.

8. Menguji peraturan

Pada jam tidur siang, si kecil yang berusia 5 tahun berkeras ingin menonton tv, padahal dia tahu, di jam tidur siang, Anda tidak memperkenankannya menonton televisi. Mulailah dia merajuk sambil mengatakan, seharian itu belum menonton televisi dan Anda tahu dia berbohong. Hal ini wajar karena mereka merasa terkungkung dengan peraturan-peraturan yang diberikan oleh orangtuanya.

YANG HARUS DI LAKUKAN

1. Bersikap kenyang

Tampaknya berlawanan dengan apa yang ingin Anda lakukan (Jelas Anda tak ingin mendukung kebohongannya) namun cara terbaik untuk mengatasi keadaan ini adalah dengan mengambil langkah sesuai dengan keadaan yang terjadi.

Tapi Anda perlu mengingatkan diri sendiri, berbohong adalah merupakan bukti bahwa anak sedang belajar apa yang benar dan yang salah. Di sisi lain anak tengah belajar mengembangkan kesadaran dan pengertian yang jelas atas perbedaan antara fakta dan fiksi. Lagipula, bila dia merasa dia tidak berbuat salah, mengapa dia harus pusing-pusing menutupinya?

2. Cari tahu penyebabnya

Bila si kecil merupakan bualan untuk sesaat, mungkin dia ingin menikmati rasa kepuasaan sebagai manusia untuk merasa penting dan dihargai. Dalam hal ini, sebaiknya Anda tidak memberikan dukungan atas kebohongan-kebohongan yang dilakukannya dengan memberikan pujian atas usaha dan prestasinya.

3. Jangan menyalahkannya

Berikan komentar yang membuat mereka mengaku, bukan menyangkal.

4. Beri simpati

Bila dia secara diam-diam memakan coklat, dan tidak mau mengakuinya (sementara itu mulutnya penuh dengan coklat), tidak berarti dia jahat. Dia hanya berusaha mendapatkan fakta bahwa tidak semua yang diinginkannya merupakan miliknya.

5. Terapkan konsekuensi yang sesuai

Bila anak berusaha menyelamatkan dirinya, maka dia harus mendapatkan konsekuensi yang sesuai. Dengan cara ini dia akan belajar, berbohong tidak berguna tetapi justru merugikan dirinya sendiri.

6. Ajari pentingnya kejujuran

Anak mungkin tahu, berbohong itu tidak baik, tetapi belum tentu dia mengerti bahwa dampak moralnya adalah bahwa seseorang yang berbohong menjadi orang yang tidak dapat dipercaya. Anda dapat menanamkan kejujuran kepadanya melalui cerita- cerita.

7. Bersikap positif, bukan menghukum

Bila Anda berharap si kecil mau mengakui kesalahannya, jangan memberikan respon atas kejujurannya dengan meluapkan kemarahan Anda kepadanya. Soalnya jika memberi respon yang ekstrem, lain waktu dia tidak akan mengakui bahwa dia melakukan kesalahan.

Bila Anda memberikan hukuman atas kebohongannya, hal itu tidak akan memberikan efek seperti yang Anda harapkan. Anak-anak yang dihukum atas kebohongan-kebohongan kecil justru akan melakukan kebohongan-kebohongan yang lebih besar. Beri pujian terhadap anak yang mau mengakui kesalahannya. Dukungan positif akan lebih efektif dibandingkan dengan hukuman.

8. Yakinkan ia tetap dicintai

Bila anak tidak sengaja memecahkan lampu kamar tidurnya, dia pasti takut mengakuinya karena khawatir ibu tidak sayang lagi kepadanya. Jelaskan dan yakinkan lagi si kecil, ibu dan ayah tetap mencintainya walaupun dia telah melakukan sesuatu yang Anda harapkan tidak dia lakukan.

9. Tentukan parameter

Jelaskan pada anak bila dia ingin mengambil kue dari piring orang lain, misalnya, dia harus minta izin dari orang tersebut dengan menggunakan kata-kata yang sopan. Dengan memberikan batasan atau aturan yang jelas, hal ini merupakan hal yang positif yang dapat Anda lakukan untuk anak. (Nova)
Sumber: KCM

Juni 27, 2007

JOKE Manado

Diarsipkan di bawah: Pernak-pernik — indungbudak @ 7:03 am

  Kaca mata bacA

Tanta Ola so rasa stress, lantaran, dia kalu lia orang so sadiki babayang.

Lantaran dia pikir depe mata so rusak, dia pigi di toko kaca mata.

Pelayan : “Siang tante, ada yang boleh kita bantu?”

Tanta Ola : “Kita pe mata so rusak ini noh…cari akang kacamata yang pas dang?”

Pelayan : “Tante so pernah pake kacamata?”

Tanta Ola : “Ohh..blum.. ..”

Pelayan : “Kalu bagitu torang priksa dulu tante pe mata. Mari tante, torang ke tampa priksa.”

Pelayan : “Tante, ini huruf apa ?” (sambil tunjung tu huruf yang sadiki basar )

Tanta Ola : “Nyanda jelas noh…”

Pelayan : “Kalu huruf ini dang?” (Sambil tunjung tu huruf yang lebeh basar)

Tanta Ola : “Masih nyanda jelas noh…”

Pelayan : “Ini komaling tanta huruf yang paling besar yang ada disini.

Sekarang tanta bilang, ini huruf apa?” (sambil tunjung huruf yang depe basar rupa piring )

Tanta Ola : “Sama noh…masih nyanda jelas”

Pelayan : (sambil garo-garo kapala lantaran bingo) “Kiapa dari tadi nyanda jelas dang tanta ?”

TantaOla : “Kita kwa nintau babaca, ngana kase tunjung huruf. Mana kita mo tau?”

Mangaku Jo….

Utu kelas 6 SD, terima raport, depe orang tua dapa suruh ke sekolah.
Guru: “Kasiang Tante, tolong tambah ajar akang pa Utu. Bodok sekali soalnya.”
Tante: “Kiapa begitu, Enci?”
Guru: “Kita pernah tanya ‘Siapa yang menulis Proklamasi?’, Utu bilang ‘bukang….bukang kita, Enci!’”
Tante: “Adoh…memang ini Utu so talalu bodok koman. Iyo nanti kita tambah ajar pa dia.”
Tante pulang ka rumah,
langsung karabas pa Utu deng sapu lidi….”Paffh….paffh!!” Wajar kalu Utu menangis.
Tante: “Ayo…mangaku, Utu. Ngana to yang da tulis tu Proklamasi?!”

Asertivitas

Diarsipkan di bawah: Pernak-pernik — indungbudak @ 3:25 am

Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.
Apakah bedanya dengan agresif dan non-asertif ?
Seseorang dikatakan asertif hanya jika dirinya mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangannya pada pihak lain sehingga tidak merugikan atau mengancam integritas pihak lain. Sedangkan dalam agresif, ekspresi yang dikemukakan justru terkesan melecehkan, menghina, menyakiti, merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain sehingga tidak ada rasa saling menghargai dalam interaksi atau komunikasi tersebut.
Sikap atau pun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara verbal atau pun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.
Seseorang dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau negatif.
Mengapa orang enggan bersikap asertif ?
Kebanyakan orang enggan bersikap asertif karena dalam dirinya ada rasa takut mengecewakan orang lain, takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai ataupun diterima. Selain itu alasan “untuk mempertahankan kelangsungan hubungan” juga sering menjadi alasan karena salah satu pihak tidak ingin membuat pihak lain sakit hati. Padahal, dengan membiarkan diri untuk bersikap non-asertif (memendam perasaan, perbedaan pendapat), justru akan mengancam hubungan yang ada karena salah satu pihak kemudian akan merasa dimanfaatkan oleh pihak lain.
Seberapa asertif-kah Anda ?
Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang bisa Anda tanyakan pada diri Anda sendiri yang dapat menjadi indikator asertivitas.
• Apakah Anda terbiasa mengekspresikan secara jelas perasaan atau pandangan Anda pada orang lain ?
• Apakah Anda meminta tolong pada orang lain pada saat Anda memang membutuhkan pertolongan ?
• Apakah Anda mampu mengekspresikan kemarahan atau pun rasa tidak enak Anda secara proporsional pada pihak lain yang telah membuat Anda merasa sakit hati ?
• Apakah Anda suka bertanya pada orang lain pada saat menghadapi kebingungan ?
• Apakah Anda mampu memberikan pandangan secara terbuka saat Anda merasa tidak sepaham dengan pendapat orang lain ?
• Apakah Anda sering berbicara di depan kelas/umum ?
• Apakah Anda mampu untuk berkata “tidak” pada saat Anda tidak ingin melakukan pekerjaan tersebut ?
• Apakah Anda berbicara dengan sikap percaya diri, serta berkomunikasi secara hangat ?
• Apakah Anda memandang wajah lawan bicara Anda pada saat Anda berbicara dengannya ?
Tips untuk bersikap assertif
Tips untuk mampu mengatakan “tidak” terhadap permintaan yang tidak diinginkan
1. Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.
2. Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
3. Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
4. Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat…saya kurang bisa…..”
5. Pastikan pula, bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda…Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
6. Gunakan kata-kata “Saya tidak akan….” atau “Saya sudah memutuskan untuk…..” dari pada “Saya sulit….”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk….” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang Anda tunjukkan.
7. Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
8. Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)…Sebenarnya, akan lebih baik Anda katakan dengan penuh empati seperti : “ saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu…..tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk …”
9. Janganlah mudah merasa bersalah ! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain…atau atas kebahagiaan orang lain, bukan…..
10. Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing.(jr)

Sumber : Jacinta Rini Team e-psikologi

The Frog Prince

Diarsipkan di bawah: Dongeng Anak — indungbudak @ 2:45 am

In olden times, when if you made a wish, it would always come true, there lived a king whose daughters were all beautiful, but the youngest was so beautiful that the sun itself, which has seen so much, was astonished whenever it shone in her face. Close by the King’s castle lay a great dark forest, and under an old lime-tree in the forest was a well, and when the day was very warm, the King’s child went out into the forest and sat down by the side of the cool fountain, and when she was dull she took a golden ball, and threw it up on high and caught it, and this ball was her favorite plaything.

Now it so happened that on one occasion the princess’s golden ball did
not fall into the little hand which she was holding up for it, but on to
the ground beyond, and rolled straight into the water. The King’s daughter
followed it with her eyes, but it vanished, and the well was deep, so deep
that the bottom could not be seen. On this she began to cry, and cried
louder and louder, and could not be comforted. And as she was complaining
some one said to her, “What troubles you, King’s daughter? You weep so
that even a stone would show pity.” She looked round to the side from
whence the voice came, and saw a frog stretching forth its thick, ugly
head from the water. “Ah! old water-splasher, is it you?” said she;
“I am weeping for my golden ball, which has fallen into the well.”

“Be quiet, and do not weep,” answered the frog, “I can help thee, but
what wilt you give me if I bring thy plaything up again?” “Whatever
you will have, dear frog,” said she–”My clothes, my pearls and jewels,
and even the golden crown which I am wearing.”

The frog answered, “I do not care for thy clothes, thy pearls and
jewels, or thy golden crown, but if you will love me and let me be
thy companion and play-fellow, and sit by thee at thy little table,
and eat off thy little golden plate, and drink out of thy little cup,
and sleep in thy little bed—if thou wilt promise me this I will go
down below, and bring thee thy golden ball up again.”

“Oh yes,” said she, “I promise thee all you wish, you will but
bring me my ball back again.” She, however, thought, “How the silly
frog does talk! He lives in the water with the other frogs, and croaks,
and can be no companion to any human being!”

But the frog when he had received this promise, put his head into the
water and sank down, and in a short while came swimmming up again with
the ball in his mouth, and threw it on the grass. The King’s daughter
was delighted to see her pretty plaything once more, and picked it up,
and ran away with it. “Wait, wait,” said the frog. “Take me with thee. I
can’t run as thou canst.” But what did it avail him to scream his croak,
croak, after her, as loudly as he could? She did not listen to it, but
ran home and soon forgot the poor frog, who was forced to go back into
his well again.

The next day when she had seated herself at table with the King and all
the courtiers, and was eating from her little golden plate, something
came creeping splish splash, splish splash, up the marble staircase, and
when it had got to the top, it knocked at the door and cried, “Princess,
youngest princess, open the door for me.” She ran to see who was outside,
but when she opened the door, there sat the frog in front of it. Then
she slammed the door to, in great haste, sat down to dinner again, and
was quite frightened. The King saw plainly that her heart was beating
violently, and said, “My child, what art thou so afraid of? Is there
perchance a giant outside who wants to carry thee away?” “Ah, no,”
replied she. “It is no giant but a disgusting frog.”

“What does a frog want with you?” “Ah, dear father, yesterday as I was
in the forest sitting by the well, playing, my golden ball fell into the
water. And because I cried so, the frog brought it out again for me,
and because he so insisted, I promised him he should be my companion,
but I never thought he would be able to come out of his water! And now
he is outside there, and wants to come in to me.”

In the meantime it knocked a second time, and cried,

“Princess! youngest princess!
Open the door for me!
Dost thou not know what thou saidst to me

Yesterday by the cool waters of the fountain?
Princess, youngest princess!
Open the door for me!”

Then said the King, “That which you have promised, you must do. Go
and let him in.” She went and opened the door, and the frog hopped in
and followed her, step by step, to her chair. There he sat and cried,
“Lift me up beside you.” She delayed, until at last the King commanded
her to do it. When the frog was once on the chair he wanted to be on the
table, and when he was on the table he said, “Now, push your little golden
plate nearer to me that we may eat together.” She did this, but it was
easy to see that she did not do it willingly. The frog enjoyed what he
ate, but almost every mouthful she took choked her. At length he said,
“I have eaten and am satisfied; now I am tired, carry me into thy little
room and make thy little silken bed ready, and we will both lie down
and go to sleep.”

The King’s daughter began to cry, for she was afraid of the cold
frog which she did not like to touch, and which was now to sleep
in her pretty, clean little bed. But the King grew angry and said,
“He who helped thee when thou wert in trouble ought not afterwards to
be despised by thee.” So she took hold of the frog with two fingers,
carried him upstairs, and put him in a corner. But when she was in bed
he crept to her and said, “I am tired, I want to sleep as well as thou,
lift me up or I will tell thy father.” Then she was terribly angry,
and took him up and threw him with all her might against the wall. “Now,
you will be quiet, you horrible little frog,” said she. But when he fell down he was
no frog but a King’s son with beautiful kind eyes. He by her father’s
will was now her dear companion and husband. Then he told her how he had
been bewitched by a wicked witch, and how no one could have delivered him
from the well but herself, and that to-morrow they would go together into
his kingdom. Then they went to sleep, and next morning when the sun awoke
them, a carriage came driving up with eight white horses, which had white
ostrich feathers on their heads, and were harnessed with golden chains,
and behind stood the young King’s servant Faithful Henry. Faithful Henry
had been so unhappy when his master was changed into a frog, that he
had caused three iron bands to be laid round his heart, in case it should
burst with grief and sadness. The carriage was to conduct the young King
into his Kingdom. Faithful Henry helped them both in, and placed himself
behind again, and was full of joy because of this wonderful end to their troubles. . And when
they had driven a part of the way the King’s son heard a cracking behind
him as if something had broken. So he turned round and cried, “Henry,
the carriage is breaking.”

“No, master, it is not the carriage. It is a band from my heart, which
was put there in my great pain when you were a frog and imprisoned in
the well.” Again and once again while they were on their way something
cracked, and each time the King’s son thought the carriage was breaking;
but it was only the bands which were springing from the heart of faithful
Henry because his master was set free and was happy.

From : storynory free audio stories

Zo’i in action

Diarsipkan di bawah: All About Zia — indungbudak @ 1:37 am

nyengir-2.jpgtopi-kuning-3.jpg

kembar1.jpgtopi-kuning-2.jpg

zp6280054.jpgp6280070.jpg

nyengir.jpg

zia.jpg

Juni 26, 2007

Zia & Kakek Obin

Diarsipkan di bawah: All About Zia — indungbudak @ 8:49 am

p6280031.jpgp6280031.jpg

Hari jumat..tanggal 22 Juni 2007 kemaren…. Zia ikut ibu pergi ke dufan….

bareng sama ibu & bapak guru dari Bina Talenta….. selain itu juga ada keluarga

Kakek Obin……

Ini photo Zia lagi di dufan sama kakek obin…pake bando merah putih…kayak bendera ya….

tinggal digerek aja deh kayaknya…..

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.